Thursday , April 2 2020
Home / Politik / 350 Tempat Ibadah Dipasangi Spanduk Tolak Dipakai untuk Kampanye

350 Tempat Ibadah Dipasangi Spanduk Tolak Dipakai untuk Kampanye

Majalengka (wartacirebon.com) – Pemerintah Kabupaten Majalengka beserta tokoh agama dan aparat TNI-Polri memasang 350 spanduk di tempat ibadah. Spanduk tersebut dipasang di masjid hingga wihara yang ada di Majalengka.

“FKUB menginisiasi launching pemasangan spanduk, jumlahnya cukup banyak, lebih dari 350 ya, nanti akan dipasang di semua tempat-tempat ibadah, masjid, gereja, pura, wihara, dan lain-lain sebagainya,” kata Ustad Ali Hambali perwakilan FKUB Kabupaten Majalengka.

Dia mengatakan kegiatan ini didasari UU 27/2017 tentang Pemilu yang melarang adanya kegiatan kampanye di tempat ibadah dan sekolah. Zen mengatakan, jika aturan itu dilanggar, ada sanksi yang akan dijatuhkan kepada pihak yang melanggar.

“Kemudian ada UU Pemilu Nomor 27 Tahun 2017 memang ada ketentuan tidak boleh berkampanye di tempat-tempat ibadah, di instansi pemerintah dan di sekolah-sekolah, itu tidak boleh. Oleh karena itu, ketentuan dari undang-undang tersebut kita patuhi, kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Kemudian akan ada sanksi, baik dari penyelenggara, peserta, pasti akan diproses,” bebernya.

Di lokasi yang sama, Kapolres Majalengka AKBP Mariyono mengatakan pemasangan 350 spanduk ini diharapkan bisa menjaga kerukunan beragama menjelang Pemilu 2019. Spanduk ini juga dipasang untuk mengingatkan masyarakat untuk tidak terlibat dalam penyebaran berita bohong (hoax), SARA, dan radikalisme.

Dia merinci ada 334 masjid, 13 gereja, dan 3 wihara yang disambangi. Mariyono mengingatkan masyarakat atas peristiwa pembunuhan di Madura yang dilatarbelakangi perbedaan pilihan politik. Dia berharap hal itu tak terulang.

“Dalam istilah kepolisian, ini langkah pemahaman hukum dan sosial, dengan membaca ini di tiap tempat ibadah, mungkin ada yang ingin menyampaikan khotbahnya bahwa sudah ada aturannya dalam UU Pemilu, tempat ibadah, sekolah, dan instansi pemerintah tidak boleh (jadi tempat kampanye),” ucap Mariyono.

Matiyono, mengutip ucapan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, mengatakan masjid boleh jadi tempat belajar politik. Namun bukan sekadar politik praktis.

“Saya mengutip apa yang disampaikan oleh Menteri Agama, boleh saja tempat ibadah dijadikan tempat politik, tapi politik yang sifatnya substantif, artinya berbicara tentang kenegaraan, berbicara tentang bangsa, tidak dalam sasaran politik praktis. Milih A dan milih B,” bebernya.

Sementara itu, Dandim 0617/Majalengka Letkol Arm Novi Herdian melalui Koramil Kecamatan Dawuan Serda Jalaludin, yang juga ada di lokasi, menyatakan mendukung kegiatan ini. Pemasangan spanduk penting untuk mengingatkan agar perbedaan pilihan politik tak membuat masyarakat terpecah.

“Jangan sampai kita berbeda pilihan dalam politik, buntut-buntutnya akan membenturkan kita sesama anak bangsa. Nah ini diharapkan tidak terjadi, bisa berbeda saya memilih calon A, calon B, tetapi kerukunan antarumat beragama, kerukunan antarsesama anak bangsa harus terjaga dengan baik,” tutur Serda Jalaludin. (RLS/MGN)

About redaksi

Check Also

Ulama Bersyukur Pemilu di Kabupaten Indramayu Berjalan Aman dan Lancar

Indramayu (wartacirebon.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Indramayu bersyukur pelaksanaan Pemilihan Legislatif (Pileg) dan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *