Kejari Medan Eksekusi Terpidana Korupsi Revitalisasi Terminal Terpadu Amplas

oleh -3 views

 

Konsultan Pengawas Bukhari Abdullah dieksekusi Kejaksaan Negeri Medan. (Foto: Istimewa)

MEDAN TOP – Konsultan Pengawas Bukhari Abdullah dieksekusi Kejaksaan
Negeri Medan ke Lapas Kelas II-A Pancur Batu, Sumut pada Jumat (26/2/2021).
Pria tersebut akan menjalani hukuman selama 2 tahun penjara dan denda sebesar
Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan dalam kasus korupsi proyek revitalisasi
Terminal Terpadu Amplas.

“Terpidana atas nama Bukhari Abdullah menyerahkan diri untuk
dilakukan eksekusi di Lapas Kelas II-A Pancur Batu,” kata Kepala Kejari
(Kajari) Medan, Teuku Rahmatsyah melalui Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel),
Bondan Subrata, Sabtu (27/2/2021).

Dia mengatakan terpidana Bukhari Abdullah yang juga menjabat
Leader CV Indhoma Consultant tersebut datang Ke Kantor Kejari Medan dengan
menyerahkan diri untuk menjalani hukuman. Bukhari merupakan terpidana korupsi
proyek revitalisasi Terminal Terpadu Amplas bersumber dari APBD Tahun Anggaran
(TA) 2015 sebesar Rp 5.651.448.000.

“Eksekusi dilaksanakan berdasarkan putusan Mahkamah Agung
Nomor: 2445.K/Pid.Sus/2018 tanggal 15 April 2018, yang telah berkekuatan
tetap,” jelas mantan Kasi Pidum Kejari Sleman ini.

Bukhari dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan
bersalah melanggar Pasal 3 ayat (1) jo Pasal 18 ayat (1) UU Nomor 31 Tahun 1999
sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Kasus ini bermula ketika proyek revitalisasi terminal
terbesar di Medan itu ditemukan 6 item volume pekerjaan tidak sesuai kontrak
dan dinilai amburadul. Keenam item volume pekerjaan yang dimaksud yakni area
pengerasan lahan, pekerjaan overlay pekerasan lama, peningkatan utilitas
pemasangan pada bagian istalasi jet pump dengan status nihil dan drainase pada
normalisasi saluran lama.

Kemudian, item perbaikan saluran pada pembuatan penutup
drainase (beton) dan terakhir pembuatan kanopi area drop off MPU pada
pengecoran kolom. Setelah dilakukan penelitian oleh ahli untuk kegiatan
tersebut dan perhitungan kerugian negara dari konsultan akuntan publik
diketahui terdapat kekurangan volume untuk pekerjaan terhitung selama 90 hari
kalender.

Untuk kekurangan volume pada pekerjaan pembangunan
revitalisasi Terminal Terpadu Amplas diketahui jumlah kerugian negara sebesar
Rp 491.104.883 yang dihitung oleh akuntan publik. (RED03)

 

Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *